METROPOLITAN TANPA KEADILAN

Farida sintha putri /ES 5

Ada apa dengan Metropolitan,  jika kamu ingin kenal Jakarta jangan hanya Tanya monas dan kota tua tapi coba kau dengar sudut pandang mangga besar dan kalibata,  Jika kamu ingin kenal Jakarta jangan hanya keliling disenopati dan sekitaran coba kau mampir kecengkareg dan lingkarannya. Jakarta itu tempat subur untuk bekerja dan dikenalnya banjir uang katanya, nyatanya hanya pengusaha yang gemuk karena kegemukan dan korupsi mereka mencolok dimata Negara. Meski kini mesakuki era yang bertahta jadi sorotan , menginjak rakyat yang tak berdaya juga menyeruhkan kesejateraan yang nyata dan sejaterah untuk diri dan keturunannya sendiri. Ini Jakarta yang dibilang kota mimpi, mimpi hidup nyaman yang tak urung terwujud dan entah kapan akan terwujud begitu pula dengan masyarakat yang berpuluh – puluhan tahun harus terpaksa hidup dibawah kolong jembatan dijalan tol. Akan tetapi itu adalah pilihan mereka sendiri mereka ingin hidup dengan apa yang mereka pilih, ditengah kota Jakarta berdamailah dengan waktu yang terasa seperti membunuh, ditengah kota Jakarta tetaplah berdiri tegar walaupun beban hidup benar – benar jatuh dikepalamu. Suara teriakan aparat Negara menjadi guncang ditempat keberadaannya namun yang terjadi mereka tidak mau pindah dari bawah kolong jembatan jalan tol dikarenakan mereka harus membayar setiap bulannya dirusun nawa tetapi mereka tak mampu untuk makan saja sangat susah dan terbatas dikarenakan mereka hanya bekerja sebagai pedagang, pengamen, hingga pemulung dan mayoritas warga yang tinggai dikawasan tersebut bekerja hanya cukup untuk makan hari ini saja bila mereka tidak bekerja tidak akan bisa makan untuk esok harinya, puluhan tahun dengan kehidupan  mereka yang seperti itu semua bisa bertahan hidup dengan listrik yang diambil dan disambungkan pada pinggir jalan dan mereka mandi juga dengan aliran air yang diambil secara terlarang dan tidak berbayar dengan itu kehidupan seketika berubah awalnya tidak normal menjadi normal untuk kehidupan masyarakat sekitar yang tidak bertanggung jawab dan menyalagunakan wewenang aturan pada Negara karena terjerit keuangan yang mereka tidak punya. Tak hanya Jakarta yang menjadi gempar di media, tetapi kota Surabaya juga ada kampong yang bernama 10001 malam yang berpenghuni dibawah kolong jembatan jalan tol dan tak jauh berbeda seperti dijakarta. Indonesia konon negeri yang amat kaya raya akan tetapi semua rakyat tak bisa menikmatinya, sawah dan ladang digantikan pabrik dan perkebunan dengan itu warga jadi penonton ditanah kelahiran sendiri sampai berebut lahan untuk ditempati. Kita sendiri yang akhirnya mesti memutuskan kearah manakah pandanganmu dan polah pikir yang mau diarahkan, bergerak maju atau menjadi tawaran masalalu yang berangan – angan maju tapi masih tetap seperti benalu dan bergerak dengan acak atau jelas yang dituju, 1 ditambah 1 memang sama dengan 2 tetapi jika berhimpun bisa jadi 5 bahkan berlaksa dan jika tidak bergerak hari ini mengapa menunggu esok hari padahal dimulai dari kitalah bisa merubah dan membangun negri.  

Sumber: Google.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*